Tuesday, October 11, 2011

"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda"

Saya selalu menangguk dan setuju sejak pertama kali dan kapanpun saya membaca kalimat yang ditulis oleh Soe Hok Gie di dalam buku hariannya. Logically, Semakin sedikit umur yang harus saya tempuh = semakin sedikit orang yang terkait dengan diri saya = semakin sedikit masalah yang harus saya jalani = semakin sedikit kemungkinan saya akan menyakiti/ disakiti oleh orang lain.

Terlahir sebagai anak tengah merupakan suatu hal yang tidak mudah, saya harus menghormati kakak saya dan menyayangi adik saya disaat yang bersamaan. Semakin sulit ketika adik saya dilahirkan setelah saya merasakan menjadi anak bungsu yang telah dimanja selama 10 tahun. Saya harus belajar menerima segala konsekuensi akan hilangnya perhatian orang tua saya. Saya harus bisa mengatur relasi saya dengan kakak dan adik saya. Sulit rasanya untuk menjalain dua relasi yang berbeda disaat bersamaan.

Saya akui, saya adalah orang yang cukup keras, saya bisa berteriak, membentak, mencaci dan melakukan hal2 buruk lainnya apabila saya sedang marah. Berkali-kali saya menyesali hal yang telah saya lakukan saat saya tidak dapat mengatur emosi saya. Tapi dibalik kekerasan saya, sejujurnya saya adalah orang yang sangat lemah. Saya tidak tahu bagaimana caranya mendeskripsikan kelemahan saya, tapi semarah apapun saya, semua akan hilang dalam sekejap apabila seseorang mengatakan kata maaf dengan tulus. Karena itulah terkadang saya tidak suka dengan orang yang dengan mudah mengatakan maaf tanpa benar-benar tau kesalahannya bahkan tidak ingin mencoba merubah dirinya. Saya tidak bisa melihat orang menangis, karena saya tahu rasanya menangis itu tidak enak. Ironisnya, saya adalah orang yang mudah menyakiti perasaan orang lain ketika saya sedang marah. Sampai pada suatu tingkat dimana orang tua saya mengatakan saya lebih baik diam ketika saya marah.

Saya sempat berfikir, apakah ini adalah suatu kebetulan atau Tuhan memang ingin saya belajar untuk mengendalikan emosi saya ketika saya harus menjalani relasi dekat dengan lawan jenis yang sama-sama memiliki sifat keras seperti saya. Berkali-kali relasi kami rusak hanya karena salah satu diantara kami atau biasanya keduanya tidak bisa menahan emosi. Sampai suatu saat saya memutuskan, saya mau lihat dimanakah batas kesabaran saya dan saya harus bisa melampaui batas itu. Saya harus bisa menekan emosi saya. Bukan untuk siapapun, tapi untuk diri saya sendiri. Menurut saya, ketika saya menjalani relasi dengan orang lain, siapapun itu dan apapun bentuknya adalah saat dimana saya bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Nasib buruk selalu berkata lain, 2 minggu ini adalah minggu terberat yang harus saya alami dalam hidup saya, masalah datang dan menyerang saya dari segala arah, keluarga, sekolah, teman, pacar dll. Dan lagi, akhirnya emosi saya menang atas segalanya, saya menyakiti orang yang saya anggap paling penting dalam hidup saya, dan begitu juga sebaliknya. Saya tidak tahu hal apa yang harus saya perbuat, mungkin benar saya lebih baik diam.

Tiba-tiba saya teringat akan kalimat yang dilontarkan oleh Soe Hok Gie, dari dulu saya selalu memiliki 1 keinginan, merubah sesuatu lalu meninggal. Saya adalah orang yang paling takut akan kehilangan sesuatu, karena itu saya selalu berharap saya ingin meninggalkan dunia ini paling pertama, ya saya tau saya egois. Ketika kalimat itu teringat kembali, saya merasa semakin lama saya menjalani hidup semakin lama saya menyakiti dan disakiti oleh orang-orang yang menjalani relasi dengan saya. Saya yang dilahirkan dengan tubuh lemah sering kali berfikir kalau hidup saya tidak akan panjang, kadang saya merasa senang dengan fakta tersebut. Saya percaya, semua orang di dunia ini pasti pernah memiliki pikiran untuk mengkahiri hidupnya dengan berbagai cara, begitu juga saya. Hanya kata dosa yang selalu menghalangi saya dari perbuatan-perbuatan aneh tersebut.

Dibalik semuanya, saya hanyalah seorang manusia. Saya selalu berharap saya dapat menahan segala emosi saya, namun saya telah gagal melampaui batas saya. Saya bukan wanita super yang bisa menahan segala tekanan dan tetap tersenyum, kadang saya lelah dan ingin sekali meninggalkan segalanya. Mungkin sampai saat itu datang, benar adanya kalau hal yang harus saya lakukan hanyalah diam.

0 comments: